Social Icons

Pages

Featured Posts

Sabtu, 01 Maret 2014

Mahasiswa dan Perubahan !

ilustrasi

The agent of change, yah kata-kata ini yang terkadang terlupakan oleh beberapa mahasiswa. Saat mereka dibutuhkan, terkadang mereka melupakan hal ini. Sebut saja di suatu daerah tempat seorang teman saya tinggal, banyak sekali mahasiswa yang nge-kos dan nyewa rumah di sana. Nah permasalahannya adalah setelah saya perhatikan, desa tersebut seperti sepi dari kegiatan para mahasiswa/mahasiswi yang ada di sana, padahal di sana merupakan ladang yang sangat luar biasa bagusnya untuk mengimplementasikan fungsi mereka, yaitu sebagai the agent of change.
Permasalahan yang sering saya perhatikan adalah kurangnya partisipasi mahasiswa dalam kegiatan kemasyarakatan, kurangnya minat melaksanakan ibadah berjama'ah, dan lain-lain.Padahal salah satu bentuk sosial dari mahasiswa adalah mau untuk bergabung dalam kegiatan masyarakat, seperti shalat berjama'ah bersama masyarakat. Memang sih beberapa mahasiswa disibukkan dengan kegiatan kampus, tapi ada hal yang terlupakan oleh beberapa mahasiswa, mereka sangat jarang memberikan waktu luang untuk masyarakat di desa tempat mereka tinggal. Padahal masa-masa seperti itulah yang paling bagus, mereka bisa dekat dengan masyarakat, masyarakat dapat mengenal siapa sih mahasiswa yang tinggal di desa mereka, dan apa yang bisa mereka (mahasiswa) berikan untuk desa tersebut sebagai bukti bahwa mereka mahasiswa, the agent of change.

Rabu, 19 Februari 2014

Aku Ingin Nikmat itu Kembali !

ilustrasi
Sejenak aku berpikir, betapa lemahnya diri ini untuk mengingat-Nya. Lagi-lagi konsistensiku digoyangkan dengan berbagai bisikan. Aku terlampau sibuk dengan kegiatanku, sampai-sampai apa yang telah aku rencanakan dan rutinitas ibadahku terganggu. Saat ingin melakukannya, ada saja penghambat. Yah, aku sibuk, bahkan sangat sibuk dengan urusan duniaku. Aku terlalu lemah dalam menjaga kekhusyukan ketika beribadah kepada-Nya. Ya Allah, aku malu kepadamu, aku terlalu sibuk dengan urusan duniaku dan sampai mengalahkan nikmat bertaqarrub kepada-Mu..!
Rindu rasanya bisa kembali khusyu' dalam beribadah kepada-Nya. Rindu rasanya untuk menangis dihadapan-Nya. Rindu sekali akan hal semua itu. Aku rindu kenikmatan ibadah. Ya, aku kehilangan beberapa nikmat itu beberapa saat ini. Aku harus meraih itu semua kembali, karena tak ada nikmat yang paling indah didunia ini selain nikmat beribadah kepada-Nya.

Rabu, 12 Februari 2014

Episode Baru


Beberapa hari yang lalu menjadi hari yang bersejarah untuk kita. Siapa sangka hari itu ternyata kita dipersatukan dengan ikatan persahabatan yang kokoh, Insya Allah. Hari itu kembali kutemukan permata-permata yang hilang setelah beberapa tahun lamanya mungkin tidak pernah kumerasakannya lagi. Ya, mungkin akulah yang menyebabkan perasaan itu tenggelam beberapa saat di samudra pasir, dan hari itu kucoba menggali memori yang pernah tertanam. Aku malu melihat diriku yang lalu, kelam seperti malam tanpa rembulan. Sesekali kumenjenguk kenangan-kenangan indah, dan hari ini aku temukan kembali keluarga baruku. Aku berhasil !
Inilah nikmatnya persahabatan, meski baru seumuran jagung, aku yakin kita bisa melangkah mengarungi hamparan samudra, jika kita bersama. Senang rasanya bisa kembali seperti dahulu, walau kali ini di episode yang baru, namun kali inilah kembali kurasakan hangatnya kebersamaan. Aku bahagia memiliki mereka dan aku senang melihat mereka tersenyum manis. Inilah episode baruku, aku tak ingin episode lama menghantuiku kembali.

Minggu, 26 Januari 2014

Belajar Dari Pengalaman !


Seringkali kesalahan masa lalu membuat kita malu bahkan enggan untuk meneruskan tujuan yang ingin kita capai. Tatkala suatu kegagalan di masa lampau menghantui pikiran kita, kita tentu berpikir dua atau empat kali apakah memperbaikinya dengan mengambil langkah yang sama, atau mengambil langkah lain dengan penuh resiko. Nah, hati kita lagi-lagi diuji oleh pilihan yang rumit, semuanya tergantung dengan langkah yang kita ambil. Banyak orang malah memilih untuk mundur dan tidak ingin melanjutkan usahanya, bahkan kata malu dan galau itu muncul.
Masa lalu bagi sebagian orang sering dijadikan patokan untuk masa yang akan datang, bukannya memperbaiki malah membiarkannya terus berjalan begitu saja. Mereka merasa jika hari ini gagal, apalagi besok dan seterusnya. Atau ada yang berpikir kelam ke depannya, padahal ia baru mencoba. Sangat disayangkan, apabila dalam diri seseorang rasa bangkit dan berani untuk melawan kegagalan mulai redup dan bahkan nyaris hilang.

Selasa, 24 Desember 2013

Menjemput Hikmah Dibalik Ujian



Hikmah ternyata tidak datang begitu saja, melainkan kitalah yang menjemputnya. Hidup penuh dengan warna,tak jarang kita dapati orang-orang yang bahagia dalam mewarnai hidupnya. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Insyirah (94: 5 dan 6) yang artinya "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,". Bukankah Allah telah memberikan semangat untuk kita agar tidak mudah berputus asa menghadapi segala ujiannya...?
Terkadang tak sedikit orang-orang yang ingin menghentikan gerak langkahnya, menyerah di tengah-tengah perjalanan, dan merasa bahwa inilah akhir dari sebuah perjuangan. Dalam potongan surah Al-Baqarah (3: 286), Allah telah memberikan sebuah pernyataan yang dapat meredakan segala kekeluhan yang kita alami ketika menghadapi ujian-ujiannya, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". Wahai akhi,ukhti, Allah telah menetapkan kadar kesanggupan kita masing-masing, Allah tahu kok sejauh mana kemampuan kita.

Minggu, 13 Oktober 2013

"Istiqamah donk..!!! Katanya mau jadi orang baik...mana buktinya.. ??" Suara qalbu seorang lelaki bernama Hanif.


Semua itu bermula ketika Hanif menginjak masa perkuliahannya.Sebelum ia benar-benar menjadi seorang mukmin yang taat,tentunya banyak hal-hal pahit yang telah ia lalui.Sebenarnya ia sadar akan hal itu,namun karena akibat keterbatasan ilmunya terhadap agama Islam,ia terus saja mengulangi perbuatan buruknya itu.
Semua itu berrubah ketika ia meranjak masa-masa perkuliahan.Ia mulai mempelajari Islam lebih mendalam dengan bergabung di beberapa majelis ilmu dan organisasi kerohanian di kampusnya dan mulai untuk mencari cahaya kebenaran .Dibalik itu semua,tantangan dan halangan tentu ia temui,berapa banyak sahabat-sahabat karibnya dahulu yang mencela dan merendahkan dirinya dihadapan sahabat-sahabat yang lain,Hanif dikucilkan dan dibiarkan hidup sendiri tanpa ada seorang teman pun (red : intimidasi).Walaupun demikian,seperti ucapannya ketika baru-baru mengenal Islam ,"Istiqamah donk..!!! Katanya mau jadi orang baik...mana buktinya.. ??"Ia  tetap terus berusaha untuk menjadi seorang mukmin yang baik dan bersabar atas segala tindakan perilaku yang ia terima dari sahabat-sahabatnya dahulu.

Sabtu, 28 September 2013

Kisah Si Pemalas dengan Abu Hanifah




Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Keluhannya mengandungi kata-kata, "Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkonganku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, manakah hati yang belas ikhsan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik."
Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah berasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Sebaik sahaja dia sampai ke rumah orang itu, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi uang kepada si malang tadi lalu meneruskan perjalanannya.Pada saat itu, si malang merasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas beliau tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi uang dan secebis kertas yang bertulis, " Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh diperuntungkan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus."
Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu kedengaran lagi, "Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin,sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku, wahai untung nasibku."